Pages

Showing posts with label sertifikasi solok selatan. Show all posts
Showing posts with label sertifikasi solok selatan. Show all posts

Tuesday, February 24, 2015

Jangan Lagi Menjual yang Mentah,,

Oleh : Drs. Yufrizal, MM
Solok Selatan

Setiap awal menggambarkan kabupaten Solok Selatan Propinsi Sumatera Barat tetap menyebutkan kabupaten baru yang memiliki potensi alam dan budaya yang sangat kaya. Terlepas dari itu, penulis menggambarkan Solok Selatan sebagai negeri yang nyaris sempurna, dengan suhu udara yang berimbang kok? Iya, di daerah ini bisa ditumbuhi oleh kelapa sawit dengan baik, dilain sisi juga tumbuh subur perkebunan teh dihamparan lembah gunung kerinci yang merupakan gunung berapi tertingi.

Nah, tentunya di daerah ini ada suhu udaranya yang begitu sejuk sampai ke air yang megalir sangat jernih dan sejuk dengan rangkaian air terjun yang begitu molek. Ada daerah yang udaranya cukup panas sehingga sangat baik untuk tanaman kepala sawit. Baik yang dikelola oleh beberapa perusahaan perkebunan maupun oleh masyarakat.

Berada di patahan semangka dengan aliran gunung berapi kerinci, solok selatan kaya dengan sumber air panas, sebagian telah dikelola sebagai pusat permandian. Sedangkan potensi panas bumi saat ini sedang proses ekploitasi oleh salah satu perusahaan.

Dengan kawasan hutan yang lebat, kawasan hutan lindung TNKS menyebabkan daerah ini kaya dengan sumber air dan sungai. Mengalirlah sungai-sungai besar diwilayah ini. Juga terdapat banyak jeram-jeram dan air terjun yang sudah sampai kisahnya ke manca Negara. Penerjunan kayak  tertinggi pernah diadakan di solok selatan oleh penerjun  asal  afrika selatan*), bahkan juga dilansir oleh media di Afrika Selatan **).

Selain untuk olah raga ekstrim kayak, sungai-sungai besar disini potensial untuk sumber energy PLTMH. Tetapi belum dikelola dengan maksimal dan belum begitu berdampak kepada kesejahteraan masyarakat sekitar.

Tak pelak lagi, pengolahan kayu juga dilakukan baik yang mengantongi izin maupun yang illegal, sehingga Solok Selatan juga mengalami masalah “Ilegal Loging”

Sepanjang aliran sungai besar tersebut tersimpanlah kandungan alam yang kaya, yaitu emas. Penambangan emas telah dilakukan sejak lama baik oleh perusahaan yang memiliki izin, masyarakat. Tetapi sampai saat ini Solok Selatan masih diliputi awan illegal minning” sehingga pernah diusung ke acara Indonesia Lawyer Club di TV One

Potensi alam lainnya berupa bahan galian biji besi, granit dan lainnya

Sejalan dengan trend batu akik dewasa ini, Solok Selatan gudangnya batu-batu Kristal terbaik, salah satunya  Lumut atau Giok Kandih, sudah populer karena batuan ini memiliki tingkat kekerasan yang tingi.

Bertolak belakang dengan gambaran potensi alam, perekonomian masyarakat masih berjalan lambat. Pendapatan Asli Daerah masih sangat rendah, secara komposisi masih dari sektor pajak dan retribusi. Pendapatan perkapita juga rendah.

Walau daerah ini juga kaya dengan hasil pertanian berupa padi, jagung, jeruk dan manggis. Tetapi secara kontribusi terhadap perkembangan income perkapita serta PAD masih rendah.

Pengamatan penulis saja, sektor-sektor potensial pendongkrak Income Per Kapita dan PAD itu perlu mendapat perhatian. Dan tentunya beberapa hal harus mendapat posisi untuk terus dibenahi :


  • Sudah saatnya kita lebih banyak memproduksi, menjual produk jadi bukan lagi menjual bahan mentah.
  • Perlu banyak regulasi dan ketetapan hukum yang pasti terhadap semua bentuk aktifitas pemanfaatan sumberdaya alam
  • Diperlukan pembinaan dan penumbuhkembangan serta keterjaminan usaha kecil dan menengah yang dikelola oleh masyarakat.
  • Diperlukan juga ada program pengandengan usaha/ mitra  kerakyatan oleh perusahaan-perusahaan yang ada ber investasi di Solok Selatan.
  • Pengembangan suatu program harus fokus, misalnya pengembangan pariwisata, dengan semua infrastruktur yang memadai, keterjaminan keselamatan dan kenyamanan.
  • Pemberdayaan perusahaan Daerah dengan pengawasan dan strategi yang mampu melirik pasar.
  • Pola penganggaran yang seimbang dengan dampak yang diharapkan, sehingga setiap infrastruktur yang dibangun memiliki impact yang dapat mendongkrak perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
  •  Pelayanan perizinan dan investasi yang terkoordinir dan cepat akses
  • Pemanfaatan media seperti website daerah, website SKPD sebagai media informasi data dan program yang dapat diakses masyarakat, sehingga masyarakat sebagai yang dilayani merasa terlayani.


Memang tidak semua bisa berjalan ideal, setidaknya kita perlu terus berbenah. Di Pemerintahan jabatan telah ditempati oleh orang- orang yang berkualitas, yang mementingkan kepentingan rakyat.

Jangan hanya lengah dengan sebutan negeri seribu sungai, seribu rumah gadang, negeri ber –emas tetapi alangkah mulianya jika semua rahmat Allah untuk Solok Selatan yang Kaya mampu meningkatkan taraf hidup dan yang terpenting kualitas Sumberdaya Manusianya. Semoga..



Thursday, May 8, 2014

Masih adakah Guru Yang Menangis ?



Tunjangan profesi guru yang diberikan pemerintah kepada guru yang telah lulus proses sertifikasi sudah dibayarkan untuk triwulan I (satu ). Ada raut kebahagiaan bagi guru-guru kita yang mengabdi didunia pendidikan.

Tunjangan profesi adalah sebuah impian dan dambaan untuk pengurang beban ekonomi guru-guru. Bahkan semua pengeluaran telah dilakukan sebelumnya dengan label nantinya dengan uang tunjangan profesi. Begitulah yang penulis dengar dari cerita-cerita para guru dilingkungan penulis. Ironis ya, memang begitulah kenyataannya selama ini. Desakan kebutuhan hidup, guru dengan gaji yang diterima sebagian besar telah dijadikan jaminan kredit untuk membangun rumah, biaya kuliah anak dan tak tertutup kemungkinan membeli kendaraan. Dengan gaji bulanan yang jumlahnya sudah dipotong pembayaran angsuran atau utang tentunya tidak membuat lebih baik secara perekonomian yang semakin hari semakin berat.

Memang, manusia sudah ditakdirkan tidak akan pernah puas. Uang tak pernah cukup, keinginan tidak pernah henti. Begitulah adanya, walau sudah mendapat tunjangan profesi senyum guru hanya sebentar, saat melihat angka di rekening bank. Setelah itu banyak kewajiban dan pengeluaran yang harus dibayar.

Kalau tunjangan profesi itu memang  diterima secara rutin tentu tidak menjadi terlalu bermasalah. Seandainya ada persyaratan dan kondisi tidak dibayarkan bagaimana? Sementara kita telah mengeluarkan dana sebelum menerima uangnya. Bisa-bisa nanti stress,  mirip nantinya dengan para calon legislatif yang gagal tempo hari.


Nah, ada hikmah yang perlu kita petik. Syukurilah rezki yang kita peroleh yang telah kita terima. Tahanlah hawa nafsu untuk pengeluaran yang sumbernya belum pasti. Agar pengaturan ekonomi keluarga tidak menyebabkan beban pikiran yang lain. Hingga betapa nikmatnya jika ada rezki berlebih. Sebaliknya menerima rezki yang belum pasti tetapi telah dibebani kewajiban yang menunggu, akhirnya rasa syukur akan berkurang.


Akhir kata, kepada kawan-kawan guru, manfaatkanlah uang tunjangan profesi dengan bijak dengan tidak merubah hakikat kita sebagai guru. Manusia yang ditiru dan digugu. Mudah-mudahan dengan tunjangan profesi yang kita harapkan berjalan lancar tidak ada lagi guru yang menangis….

Thursday, April 3, 2014

Rapat Akbar vs Rapat Kecil

Oleh :   Yufrizal,  

Aktifitas di pemerintahan tak lepas dari agenda rapat. Berbagai nama rapat, rapat staf yang bertujuan untuk mengkoordinasikan berbagai hal internal pegawai. Ada rapat dinas, rapat koordinasi, rapat tertutup. Ada juga istilah meeting, coffe morning dan banyak istilah dan penamaan yang pada intinya adalah mengumpulkan orang-orang untuk tujuan tertentu.
Pada intinya tujuan sebuah rapat tentunya untuk melahirkan suatu kesepakatan untuk  solusi suatu atau beberapa masalah yang berkaitan dengan pekerjaan. Diagendakan, ada daftar hadir ada pimpinan rapat ada snack atau makan siang/ malam tentunya.

Sudah sekian seringnya saya menghadiri rapat, baik tingkat kantor, tingkat desa, kecamatan bahkan rapat tingkat regional. Pada intinya sama prosedurnya, datang karena ada undangan, atau datang mewakili orang yang diundang. Lapor pada panitia, tanda tangan daftar hadir sekian rangkap dan ada yang diberi bahan rapat, ada yang diberi satu kotak snack saja. Bahkan ada yang langsung duduk saja.

Mayoritas selama ini mengikuti rapat ada hal yang sempat saya amati, hampir umum terjadi dalam rapat apapun :

Tuesday, April 1, 2014

FOKUS PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH


Pembangunan Daerah merupakan suatu rangkaian dari beberapa proses perencanaan yang harus sinergis. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor. 8 Tahun 2008 , tata pelaksanaannya dituangkan dalam Permendagri Nomor 54 Tahun 2010. Penyusunan Perencanaan Pembangunan merupakan mata rantai yang tak terpisahkan dari awal dokumen perencanaan berupa RPJP, RPJMD, Renstra SKPD sampai RKPD, KUA – PPAS dan muaranya di  Anggaran Biaya Pembangunan itu sendiri. Ada benang merah yang harus menjadi landasan kokoh dalam perencanaan program kegiatan untuk mencapai titik ketuntasan seperti yang ditargetkan dalam dokumen perencanaan sebelumnya.

Kendatipun dalam  proses perencanaan itu melalui pendekatan seperti yang tertuang dalam Permendagri Nomor : 54 Tahun 2010, ada 4 (empat ) pendekatan Perencanaan Pembangunan Daerah  yaitu  pendekatan :
a. teknokratis; 
b. partisipatif; 
c. politis; dan
d. top-down dan bottom-up . 

Wednesday, March 26, 2014

Mereguk Pahitnya Tunjangan Profesi Guru

Oleh : Drs. Yufrizal, MM
ILUSTRASI: Sampai akhir 2012, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat ada Rp 10 triliun tunjangan guru yang belum disalurkan ke rekening guru dari Rp 40 triliun dana tunjangan yang sudah ditransfer pemerintah pusat ke rekening pemerintah daerah. Inspektur Jenderal Kemendikbud Haryono Umar mengatakan paling marak kasus pengendapan ditemukan di Pulau Jawa. KOMPAS.com/M. Latief

Profesi guru tak habis-habisnya dibahas, merupakan profesi yang sering dibicarakan. Mulai dari sosok sang guru “Umar Bakri”  yang merupakan pencerminan nasib guru zaman lalu dengan sepeda ontelnya. 

Pengorbanan tulus ikhlas guru dalam mencerdaskan anak bangsa sesuai dengan cita – cita luhur bangsa di UUD 1945 merupakan amanah yang diemban dengan kerelaan. Sosok guru yang selalu ada dalam membimbing anak-anak bangsa secara kehidupan sangat sederhana. Dengan adanyanya regulasi dan perhatian pemerintah terhadap profesi guru ini yang tertuang dalam undang-undang No. 14 Tahun 2005 serta pelaksanaan di Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008, nasib guru sedikitnya mulai membaik dengan adanya program tunjangan profesi bagi guru yang telah mengikuti sertifikasi. 

Tunjangan profesi yang dibayarkan sesuai dengan besaran gaji pokok kalau memenuhi ketentuan syarat pembayaran yang diatur dengan permendikbud dan permenkeu yang diberlakukan saat itu. Pada intinya seorang guru dapat menerima tunjangan profesi kalau beban mengajarnya minimal 24 jam pelajaran per minggu. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Tetapi penulis punya pendapat lain, lebih tepatnya untuk kesetaraan dengan profesi lain, agar tidak terlalu ada kesenjangan. 

Sunday, March 23, 2014

Potret Kecil Dunia Pendidikan



Oleh : Yufrizal 

Seperti biasanya saya menjemput anak satu-satunya kesekolah di salah satu SMA Negeri di daerah kami. Anakku duduk dikelas II jurusan IPA.  Jadwal sekolah biasanya  hari Senin sampai Kamis masuk jam 7.00 pagi dan pulangnya jam 14.30. Hari Jum’at pulangnya jam 11.30. Sedangkan hari Sabtu pulang jam 12.30.

Memang begitulah jadwal rata – rata tingkat SLTA sesuai tuntutan kurikulum sekolah yang ditetapkan pemerintah. Tentunya para siswa membawa bekal makan siang kecuali hari Jum’at dan Sabtu karena pulang sebelum jam 13.00 siang.

Dalam pelaksanaan pembelajaran toh sudah biasa saja, jika pulang terlambat karena ada kegiatan remedial, atau kegiatan ekstra kurikuler lainnya sepanjang diberitahukan. Atau dilaksanakan dari Senin – Kamis karena anak-anak membawa bekal makan siang.

Wednesday, January 15, 2014

Masalah Pendidikan di Indonesia



Pendidikan memiliki tugas untuk menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan dari suatu bangsa tersebut. Setiap langkah dalam pembangunan selalu diupayakan beriringan dengan tuntutan kamajuan zaman. Perkembangan zaman yang selalu selalu berubah dan memunculkan berbagai permasalahan baru yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.

Indonesia adalah negara memiliki beraneka ragam dalam kebudayanya dan Indonesia juga dikenal sebagai negara yang kaya raya akan sumberdaya alamnya, namun untuk sumber daya manusianya dalam hal pendidikan masih sangat rendah. Hal tersebut telah diakui oleh banyak orang di dunia, bahkan oleh warga masyarakat Indonesia itu sendiri. Pendidikan yang ada di Indonesia merupakan salah satu negara yang kurang maju di dunia di di bidang pendidikan ini. 

Hal tersebut di karenakan adanya masalah pendidikan di Indonesia yang belum dapat ditangani dengan tuntas. Adapaun masalah pendidikan di Indonesia ialah :

1. Rendahnya sarana dan prasarana

Telah kita ketahui sebelumnya dari berita-berita baik di media massa cetak atau pun elektronik, bahwa sudah banyak berita tentang sekolah-sekolah yang roboh, atau sekolah yang telah rusak karena bangunanya sudah usang, lapuk dan keropos yang sudah tidak layak namun tidak memperoleh bantuan dari pemerintah setempat. Ini merupakan salah satu bukti bahwa betapa rendahnya sarana dan prasarana yang di miliki oleh Indonesia.

2. Kurangnya pemerataan pendidikan di Indonesia

Bagi sebagian orang khususnya orang-orang yang tinggal di kota besar, pendidikan merupakan hal yang biasa saja, namun jika kita tengok ke daerah-daerah terpencil dan tempat-tempat kumuh, pendidikan merupakan suatu hal yang mewah dan sangat di dambakan. Hal tersebut di karenakan Negara lebih memfokuskan pendidikan di wilayah-wilayah pokok yang lebih potensial. Hal tersesebutlah yang membuat pemerataan pendidikan yang ada di Indonesia menjadi kurang.

3. Mahalnya biaya pendidikan

Mahalnya biaya pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi adalah masalah yang paling utama dalam pendidikan yang ada di Indonesia. Hal inilah yang membuat banyak anak-anak yang putus sekolah di kalangan masyarakat Indonesia yang kurang mampu.

http://seputarpendidikan003.blogspot.com/2013/06/masalah-pendidikan-di-indonesia.html


Thursday, October 31, 2013

Kemdikbud Mulai Siapkan UN 2014


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sudah mulai mempersiapkan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2014.
Berbagai langkah antisipasi harus dilakukan oleh pemerintah, mengingat waktu pelaksanaan UN tahun depan yang hampir berbarengan dengan Pemilu Legislatif.
"Semua dalam tahap persiapan, termasuk butir-butir soal. Saat ini juga sedang disiapkan Permendikbud tentang penyelenggaraan Ujian Nasional, dan kemudian nanti juga ada Pedoman Operasional Standar (POS)," ujar Sekretaris Balitbang Kemdikbud, Hendarman, di sela-sela acara Lomba Esai Pendidikan 2013, di Jakarta, Senin (28/10).

Saturday, October 19, 2013

Peran Pola Asuh Dalam Membentuk Karakter Anak



Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, namun apakah pada kenyataannya semudah itu? Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta
Para guru dan orang tua, ijinkan saya bertanya kepada Anda… Pernahkan kita berpikir bahwa program negatif yang (mungkin) secara tidak sengaja kita tanamkan ke pikiran bawah sadar anak kita, akan terus mendominasi dan mengendalikan hidupnya – membuatnya jadi berantakan di masa depan? Jika mau jujur melakukan evaluasi pada diri sendiri, bisa jadi kita semua termasuk saya sebagai orang tua telah dan sedang melakukan hal ini terhadap anak-anak kita.

Tuesday, October 15, 2013

“Sekedar Tip Bekerja Bersama Laptop”

Drs.Yufrizal, MM

Sudah merupakan kebutuhan utama di dunia perkantoran ataupun pribadi menggunakan laptop sebagai sarana atau media setiap aktifitas. Laptop merupakan alat yang boleh dikatakan penunjang utama dalam kegiatan perkantoran. Tetapi masih banyak diantara kita yang belum memaksimalkan kinerja laptop. Baik keterbatasan media laptop yang sangat bervariasi kualitas dan kapasitasnya maupun keterbatasan Sumber Daya Manusia-nya sebagai operator.

Pada tulisan kali ini penulis sekedar berbagi pengalaman dan tip seputar penggunaan laptop maupun PC di kantor.

Berawal dari seringnya penulis mendengar terjadinya kesalah pahaman antara beberapa rekan kerja, yang sebenarnya bukanlah permasalahan serius. Bahkan terkadang adanya image negatif terhadap teman sendiri yang memberikan soft copy data yang tak bisa terbaca di laptop kita. Padahal masalahnya bukanlah dari materi softcopynya, tetapi banyak kasus terjadi adalah kurang memahami karakteristik data yang diberikan. Misalnya file yang berektension PDF yang harus dibuka dengan aplikasi pdf reader, sementara di laptop kita belum terinstal.

Yang sering terjadi berikutnya adalah file yang dikompress RAR atau ZIP, tentunya harus dibuka pula dengan aplikasi sejenis. Dan masih banyak lagi hal – hal yang berkaitan dengan kasus diatas yang perlu kita pahami, sehingga tidak terjadi misscommunication dengan sahabat di kantor

CAKRA


CAKRA / KANTUNG ENERGI/PUSAT MITOCHONDRIA

Kantung energi ( kantung Mitochondria atau sel tempat energi ) yang terdapat pada seluruh organ / tubuh manusia yang menjamin kecukupan  energi untuk kerja organ.
Tampak seperti lingkaran spiral dengan warna sama dgn warna aura dasar yang bersangkutan.
Warna cakra yang lemah/redup melambangkan kurangnya energi pada organ tertentu yang apabila dibiarkan akan mengakibatkan rusaknya organ /sakit.
Kekurangan energi pada cakra disebabkan oleh karena kecilnya energi cadangan (TENAGA DALAM) di tubuh sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan energi seluruh cakra yang ada.  
Penempatan energi pada cakra tertentu akan membuat seseorang memiliki kemampuan – kemampuan tertentu yang lebih menonjol (lihat bab meditasi ).
Terdapat beberapa cakra yang tidak boleh diberikan energi yang sangat besar secara permanent karena akan berakibat kerusakan pada organ yang pada akhirnya akan membuat kita sakit, (Contoh cakra dasar depan akan membuat badan kita bungkuk secara berlebih dan dapat menimbulkan berbagai penyakit).
Kemampuan kita dalam melihat cakra akan sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pengobatan dengan  memanfaatkan tenaga.
CAKRA INTI.
Cakra inti ( kantung pusat Mitochondria manusia ) yang terletak dipusar kita merupakan pusat energi manusia, dimana tenaga tersisa setelah diserap oleh sel,cakra serta zat lainnya disimpan di cakra inti sebagai cadangan energi (TENAGA DALAM).]
Penderita Autism adalah mereka yang karena satu dan lain hal mengalami gangguan CAKRA INTI, sehingga Mitochondria penderita tidak terkumpul di Cakra Inti, bahkan beredar diseluruh tubuh sehingga penderita tidak bisa diam/ berkonsentrasi.
CAKRA UTAMA.
Cakra utama adalah cakra di mana konsentrasi energi pada saat itu paling besar, bahkan bisa lebih besar dari Cakra Inti ( missal pada saat kita ereksi maka Cakra Utama kita terletak di Cakra Dasar Depan, pada saat kita kelaparan sampai badan kita gemetar, maka cakra utama kita akan berpindah ke Cakra Tenggorokan Belakang agar kita tidak jatuh akibat tarikan gravitasi bumi )
Cakra Utama adalah cakra dimana kita bisa memberikan energi/ doping kepada siapa saja yang ingin mempelajari seni olah napas dan gerak agar pembuluh darah yang bersangkutan siap menerima lonjakan energi yang besar (dilatasi pembuluh darah ).
Letak cakra utama seseorang berubah pada hitungan menit maupun jam dipengaruhi oleh kondisi fisik dan mental yang bersangkutan.
Perubahan posisi dari duduk ke berdiri akan menyebabkan perubahan letak cakra utama, begitupula perubahan emosi dari senang ke jengkel akan dengan cepat merubah letak cakra utama.
Bagi mereka yang ingin memberikan energi untuk dilatasi pembuluh darah seseorang diwajibkan mengenal dan mengetahui dengan pasti letak cakra utama tersebut,kesalahan dalam menentukan letak cakra utama akan mengakibatkan terjadinya tarik menarik energi antara cakra utama dengan cakra yang lain dan hal tersebut dapat berakibat fatal / pecahnya pembuluh darah diantara kedua cakra

Sumber:http://konsulalternatif.wordpress.com

Monday, October 14, 2013

Urutan Kepangkatan PNS


Berikut ini adalah urut-urutan kepangkatan di tubuh TNI, Polri dan PNS yang dikenal di Indonesia.

I. Urutan Kepangkatan TNI

Nama PangkatSingkatanSimbolLetak
PERWIRA TINGGI
Jenderal Besar *) 
Pundak
Jenderal **)Jend.
Letnan Jenderal **)Letjen
Mayor Jenderal **)Mayjen
Brigadir Jenderal **)Brigjen

Monday, August 6, 2012

Pembayaran Tunjangan Guru Siap Diambil Alih

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka kemungkinan mengambil alih pembayaran tunjangan profesi pendidik demi kelancaran. Kepastiannya menunggu hingga Juli atau triwulan kedua pembayaran.

”Kami akan lihat sampai Juli. Jika pemerintah daerah tetap tak bisa membayar lancar, kami akan cari mekanisme lebih baik,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, akhir pekan lalu, di Jakarta.

Tunjangan profesi triwulan pertama 2012 semestinya disalurkan ke rekening pribadi penerima, April lalu. Namun, hingga Minggu lalu, ada yang tak kunjung cair karena tak ada SK pencairan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut Nuh, SK masing-masing direktur jenderal pendidikan dasar dan menengah selesai Maret. Dana pun sudah disalurkan kepada pemerintah provinsi.

Menurut Retno Listiyarti, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia, Kemdikbud tak belajar dari kesalahan penyaluran tunjangan profesi guru. ”Bukannya makin mudah. Hampir enam tahun pelaksanaan sertifikasi, tak ada perbaikan kinerja dalam sistem pembayaran tunjangan,” katanya.

Pencairan tunjangan profesi bagi guru swasta dan honorer, lanjutnya, sudah ada di beberapa daerah. Besaran tunjangan dipukul rata Rp 1,5 juta per bulan.

Iwan Hermawan, Sekjen Federasi Guru Independen Indonesia, mengatakan, pembayaran tunjangan di Jawa Barat tak merata. Di Kota Bandung belum ada pembayaran. Di kabupaten, seperti Garut, Tasikmalaya, Sumedang, dan Bandung Barat, hanya dibayar dua bulan.

Pemerintah daerah dinilai sibuk mengklarifikasi guru yang memenuhi 24 jam mengajar. Pemenuhan 24 jam mengajar ini dinilai bukan salah guru, melainkan akibat ketidakmampuan pemerintah menata distribusi guru. ”Akibat guru didesentralisasi. Jadi, tunjangan dan gajinya melalui DAU kota/kabupaten sehingga banyak hambatan birokrasi,” kata Iwan.

Triwulan

Berdasarkan keputusan Kementerian Keuangan, pembayaran tunjangan profesi pendidik dibayar per triwulan. Triwulan pertama dibayarkan paling lambat April. ”Dana tunjangan profesi guru itu mengendap. Jadi lahan birokrat untuk memanfaatkan bunga anggaran,” ujar Retno.

Para guru juga dibingungkan dengan keharusan membuka beberapa rekening bank. Selain bank daerah, mereka juga harus punya rekening bank lain. ”Guru dipermainkan untuk soal tunjangan profesi ini,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia Sulistiyo mengatakan, keterlambatan pembayaran tunjangan profesi guru ini akibat kinerja Kemdikbud yang lambat menyelesaikan SK sertifikasi. ”Setelah guru diurusi berbagai unit utama di berbagai ditjen dan badan guru, justru birokrasi guru jadi rumit dan lambat,” katanya. PGRI akan mengadukan Kemdikbud kepada Presiden dan DPR. (ELN) Kompas

PGRI : Hasil UKG Belum Bisa Gambarkan Kompetensi

Hasil uji kompetensi guru (UKG) secara online belum menggambarkan kompetensi guru yang komprehensif. Penyebabnya, UKG online dilaksanakan dalam proses yang tidak baik dan merugikan guru.
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistyo, di Jakarta, Sabtu (4/8/2012) ini, mengatakan, para guru mengerjakan UKG online dalam proses yang gelisah. Para guru mengalami kendala yang merugikan mereka, mulai dari banyak soal yang tertukar, tidak ada jawaban yang benar, tidak ada jawaban yang tersedia, namun guru harus tetap menjawab.
Ada juga soal yang mempertanyakan gambar atau tabel, namun tidak muncul. Guru fisika harus mengerjakan IPA terpadu yang banyak materi biologi dan kimia. Ada guru yang baru mengerjakan beberapa nomor, koneksi terputus, tetapi hasilnya langsung diputuskan.
"Hasil UKG online itu belum menggambarkan kompetensi guru yang komprehensif. Sebaiknya hasil UKG yang banyak bermasalah itu dianggap uji coba," kata Sulistyo.
Menurut Sulistyo, Kemendikbud jika mempublikasikan hasil UKG agar bijaksana. UKG hanya mengukur kemampuan kognitif guru, untuk kompetensi pedagogik dan profesional. Kedua kompetensi ini bisa dipelajari.
Adapun kompetensi kepribadian dan sosial sama sekali belum tergambar. Padahal, kedua potensi ini juga berperan penting dalam proses pendidikan, terlebih dalam proses pendidikan karakter.
"Kemendikbud selama ini terlalu mengagung-agungkan angka," kata Sulistyo. 
Kompas

Sunday, July 29, 2012

Arti Belajar dan Pembelajaran

Sejak kecil kita semua sudah akrab sekali dengan istilah belajar, tapi masih banyak juga diantara kita yang belum paham betul tentang arti dan pengertian istilah belajar dan pembelajaran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :
Belajar berasal dari kata :
ajar petunjuk yg diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut).
Berguru kepalang ajar , bagai bunga kembang tak jadi, ( ilmu yg dituntut secara tidak sempurna, tidak akan berfaedah)

belajar :
1.    berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu
Aadik belajar  membaca;
2.    berlatih:
Ia sedang belajar  mengetik;
            Murid-murid itu sedang belajar  karate;
3.    berubah tingkah laku atau tanggapan yg disebabkan oleh pengalaman;

Secara istilah beberapa ahli bahasa mengartikan bahwa :
Belajar, adalah proses perubahan Tingkah laku yang ada pada diri individu Baik yang berkenaan dengan aspek Logika, etika , estetika, karya, dan Praktika.
Pembelajaran, adalah proses Kegiatan yg terbimbing untuk mencapai Tujuan dalam rangka perubahan Tingkah laku.
Implikasi pedagogik, adalah hasil yg Secara langsung ataupun tdk Langsung dr aktivitas pembelajaran Thd perubahan tingkah laku yang Membentuk kepribadian individu.
http://ptkguru.com

Komponen Model Contextual Teaching and Learning (CTL)

Menurut Riyanto (2009:171) model Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki tujuh komponen utama yaitu konstruktivisme(constructivism), inkuiri (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authetic assessment).

1) Konstruktivisme (Contrustivism)
Menurut Sanjaya (2006:264), Konstruktivisme (Constructivism) adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif berdasarkan pengalaman. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruk pengetahuan dibenak mereka sendiri. Bedasarkan dasar tersebut maka pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam proses pembelajaran siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar.

Dalam tahap ini guru memfasilitasi dengan:a) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, b) memberikan kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan c). Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

2) Bertanya (Questioning)
Strategi uatama dalam pembelajaran kontekstual yaitu bertanya. Proses bertanya yang dilakukan siswa merupakan proses berpikir siswa dalam rangka menggali informasi, mengonfirmasikan apa yang diketahuinya, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Menurut Riyanto (2009:174) suatu pembelajaran yang produktif dalam kegiatan bertanya yaitu a) Menggali informasi baik administrasi maupun akademis, b) mengecek pemahaman siswa, c) membangkitkan respon kepada siswa, d) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, e) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, f) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru, g) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, dan h) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

Dalam kegiatan pembelajaran kegiatan tanya jawab dilakukan siswa dan guru sebagai umpan balik pengetahuan dan pemberian kesempatan kepada siswa untuk berpikir secar kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa.

3) Inkuiri (Inquiry)
Proses pembelajaran yang dilakukan siswa proses menemukan (Inquiry) yaitu proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri.

Proses inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan ketrampilan siswa diharapkan bukan dari mengingat fakta-fakta tetapi hasil dari temuan sendiri baik dari pengetahuannnya sendiri, dalam kegiatan sehari-hari atau kegiatan yang lain. Menurut Sanjaya (2006:265) bahwa proses inkuiry dapat dilakukan melalui beberapa langkah yaitu a). merumuskan masalah, b) mengajukan hipotesis, c) mengumpulkan data, d) menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan, dan e) membuat kesimpulan.

4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Proses pembelajaran yang diperoleh dari bekerja sama dengan orang lain baik dengan teman sebaya , guru, maupun lingkungannya merupakan konsep dari masyarakat belajar (Learning Community). Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing dengan temanya, antar kelompok lainnya.

Masyarakat belajar terjadi jika ada komunikasi dua arah yaitu siswa dengan guru, siswa dengan temannya, siswa dengan lingkungan belajar. Komunikasi dua arah tersebut saling belajar dan setiap individu memiliki pengetahuan, pengalaman yang berarti dan berbeda sehingga perlunya slaing mempelajari.

5) Pemodelan (Modeling)
Pembelajaran ketrampilan, pengetahuan tertentu dan model yang bisa ditiru dalam Contextual Teaching and Learning (CTL) yaitu modeling. Menurut Sanjaya (2006:267) modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh siswa. Model diperoleh dari guru, siswa maupun lingkungan belajar yang relevan dengan materi pembelajaran. Modeling adalah asas yang sangat penting dalam pembelajaran CTL karena melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yan teoritis-abstrak yang dapat menimbulkan terjadinya verbalisme.

6) Refleksi (Reflection)
Menurut Sanjaya (2006:268) refleksi dalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses. Pengetahuan diperluas melalui konteks pembelajaran yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Tujuan refleksi yaitu untuk mengidentifikasi hal-hal yang sudah diketahui, dan hal-hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan.

Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan Contextual Teaching and Learning (CTL), setiap akhir pembelajaran guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk ” mengingat kembali ” apa yang telah dipelajari. Sehingga siswa bebas menafsirkan pengalaman sendiri, sehingga mereka dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.

7) Penilaian Sebenarnya (Authetic Assessment)
Assessment adalah proses pengumpulan data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru untuk memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar (Riyanto, 2009:177).
Berdasarkan pengertian di atas, bahwa penilaian diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan intektual maupun mental siswa. Penilain yang autentik dilakukan secara integrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian dilakukan secara terus menerus selama kegiatan berlangsung.

Adapun karakteristik penilaian nyata menurut Riyanto (2009:177) yaitu a) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, b) dapat digunakan untuk formatif maupun sumatif, c) yang diukur ketrampilan dan performasi, bukan mengingat fakta, d) berkesinambungan, e) terintegrasi dan f) dapat digunakan sebagai feed back.

Menurut Elen Winner dalam (Elaine B.Johnson,2006:93), komponen model Contextual Teaching and Learning (CTL) yaitu:
Para siswa akan:
1). Menjadi siswa yang dapat mengatur diri sendiri dan aktif, sehingga dapat mengembangkan minat individu, maupun bekerjasama sendiri dan kelompok, belajar lewat praktek.
2). Membangun keterkaitan antara sekolah dan konteks kehidupan nyata seperti bisnis dan lembaga masyarakat.
3). Melakukan pekerjaan yang berarti yaitu pekerjaan yang memiliki tujuan, berguna untuk orang lain, yang melibatkan proses menentukan pilihan, dan menghasilkan produk nyta maupun tidak nyata.
4). Menggunakan pemikiran tingkat tinggi yang kreatif dan kritis yaitu menganalisis. Melakukan sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, menggunakan logika dan bukti.
5). Bekerja sama., yaitu membawa siswa bekerja dengan efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bahwa apa yang mereka lakukan mempengaruhi orang lain, membantu mereka komunikasi dengan orang lain.
6). Mengembangkan setiap individu yaitu memberi perhatian, meletakkan harapan yang tinggi untuk setiap anak. Mendorong dan memotivasi siswa. Siswa tidak dapat sukses tanpa dukungan dari orang dewasa. Siswa menghormati teman sebayanya.
7). Mengenali dan mencapai standar yang tinggi yaitu mengidentifikasi tujuan yang jelas dan memotivasi siswa untuk mencapainya.

Berdasarkan pendapat tentang komponen model Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran matematika yaitu menghitung luas bangun datar persegi panjang, siswa ditekankan pada pengembangan diri melalui praktek, bekerjasama dengan kelompok lain, dan bekerja yang bermakna. Penekanan konsep menghitung luas bangun datar persegi panjang, dilakukan dengan melihat, melakukan dan menganalisis, sehingga siswa dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan penjumlahan dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: http://www.sekolahdasar.net/

7 Aspek Kompetensi Pedagogik Guru



Kata 'Pedagogik' tidak akan asing di telinga guru, tetapi apakah semua guru memahami apa yang dimaksud dengan Kompetensi Pedagogik walau sebenarnya sudah pernah di lakukannya. Kompetensi Pedagogik pada dasarnya adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi Pedagogik menjadi salah satu jenis kompetensi yang harus dikuasai guru.

Kompetensi Pedagogik merupakan kompetensi khas, yang akan membedakan guru dengan profesi lainnya. Penguasaan Kompetensi Pedagogik disertai dengan profesional akan menentukan tingkat keberhasilan proses dan hasil pembelajaran peserta didik.

Kompetensi Pedagogik diperoleh melalui upaya belajar secara terus menerus dan sistematis, baik pada masa pra jabatan (pendidikan calon guru) maupun selama dalam jabatan, yang didukung oleh bakat, minat dan potensi keguruan lainnya dari masing-masing individu yang bersangkutan.

Kompetensi Pedagogik yang menjadi salah satu materi yang diujikan dalam peniliaan kinerja guru, terdiri dari 7 aspek. Berikut adalah 7 aspek Kompetensi Pedagogik yang dikutip dari Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru (PK Guru):

1. Mengenal Karakteristik Peserta Didik
Dalam aspek ini guru mampu mencatat dan menggunakan informasi tentang karakteristik peserta didik secara umum dan khusus untuk membantu proses pembelajaran. Karakteristik peserta didik ini terkait dengan aspek fisik, intelektual, sosial, emosional, moral, dan latar belakang sosial budaya. Beberapa indikator yang muncul dari penguasaan karakter peserta didik diantaranya:

  • Guru dapat mengidentifikasi karakteristik belajar setiap peserta didik di kelasnya,
  • Guru memastikan bahwa semua peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran,
  • Guru dapat mengatur kelas untuk memberikan kesempatan belajar yang sama pada semua peserta didik dengan kelainan fisik dan kemampuan belajar yang berbeda,
  • Guru mencoba mengetahui penyebab penyimpangan perilaku peserta didik untuk mencegah agar perilaku tersebut tidak merugikan peserta didik lainnya,
  • Guru membantu mengembangkan potensi dan mengatasi kekurangan peserta didik,
  • Guru memperhatikan peserta didik dengan kelemahan fisik tertentu agar dapat mengikuti aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik tersebut tidak termarjinalkan (tersisihkan, diolok‐olok, minder, dsb).

2. Menguasai Teori Belajar dan Prinsip‐prinsip Pembelajaran
Guru mampu menetapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif dan efektif sesuai dengan standar kompetensi guru. Guru mampu menyesuaikan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mampu memotivasi mereka untuk belajar. Indikator yang harus tampak dari aspek ini adalah:
  • Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menguasai materi pembelajaran sesuai usia dan kemampuan belajarnya melalui pengaturan proses pembelajaran dan aktivitas yang bervariasi,
  • Guru selalu memastikan tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran tertentu dan menyesuaikan aktivitas pembelajaran berikutnya berdasarkan tingkat pemahaman tersebut,
  • Guru dapat menjelaskan alasan pelaksanaan kegiatan/aktivitas yang dilakukannya, baik yang sesuai maupun yang berbeda dengan rencana, terkait keberhasilan pembelajaran,
  • Guru menggunakan berbagai teknik untuk memotiviasi kemauan belajar peserta didik,
  • Guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang saling terkait satu sama lain, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran maupun proses belajar peserta didik,
  • Guru memperhatikan respon peserta didik yang belum/kurang memahami materi pembelajaran yang diajarkan dan menggunakannya untuk memperbaiki rancangan pembelajaran berikutnya.

3. Mampu Mengembangkan Kurikulum
Dalam mengembangkan kurikulum guru harus mampu menyusun silabus sesuai dengan tujuan terpenting kurikulum dan membuat serta menggunakan RPP sesuai dengan tujuan dan lingkungan pembelajaran. Guru mampu memilih, menyusun, dan menata materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Guru akan nampak mampu mengembangkan kurikulum jika:
  • Guru dapat menyusun silabus yang sesuai dengan kurikulum,
  • Guru merancang rencana pembelajaran yang sesuai dengan silabus untuk membahas materi ajar tertentu agar peserta didik dapat mencapai kompetensi dasar yang ditetapkan,
  • Guru mengikuti urutan materi pembelajaran dengan memperhatikan tujuan pembelajaran,
  • Guru memilih materi pembelajaran yang: (1) sesuai dengan tujuan pembelajaran, (2) tepat dan mutakhir, (3) sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan belajar peserta didik, (4) dapat dilaksanakan di kelas dan (5) sesuai dengan konteks kehidupan sehari‐hari peserta didik.

4. Menciptakan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik
Guru mampu menyusun dan melaksanakan rancangan pembelajaran yang mendidik secara lengkap. Guru mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter peserta didik. Guru mampu menyusun dan menggunakan berbagai materi pembelajaran dan sumber belajar sesuai dengan karakteristik peserta didik. Jika relevan, guru memanfaatkan teknologi informasi komunikasi (TIK) untuk kepentingan pembelajaran. Indikator dari aspek ini adalah:
  • Guru melaksanakan aktivitas pembelajaran sesuai dengan rancangan yang telah disusun secara lengkap dan pelaksanaan aktivitas tersebut mengindikasikan bahwa guru mengerti tentang tujuannya,
  • Guru melaksanakan aktivitas pembelajaran yang bertujuan untuk membantu proses belajar peserta didik, bukan untuk menguji sehingga membuat peserta didik merasa tertekan,
  • Guru mengkomunikasikan informasi baru (misalnya materi tambahan) sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan belajar peserta didik,
  • Guru menyikapi kesalahan yang dilakukan peserta didik sebagai tahapan proses pembelajaran, bukan semata‐mata kesalahan yang harus dikoreksi. Misalnya: dengan mengetahui terlebih dahulu peserta didik lain yang setuju/tidak setuju dengan jawaban tersebut, sebelum memberikan penjelasan tentang jawaban yamg benar,
  • Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai isi kurikulum dan mengkaitkannya dengan konteks kehidupan sehari‐hari peserta didik,
  • Guru melakukan aktivitas pembelajaran secara bervariasi dengan waktu yang cukup untuk kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan belajar dan mempertahankan perhatian peserta didik,
  • Guru mengelola kelas dengan efektif tanpa mendominasi atau sibuk dengan kegiatannya sendiri agar semua waktu peserta dapat termanfaatkan secara produktif,
  • Guru mampu audio‐visual (termasuk tik) untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Menyesuaikan aktivitas pembelajaran yang dirancang dengan kondisi kelas,
  • Guru memberikan banyak kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya, mempraktekkan dan berinteraksi dengan peserta didik lain,
  • Guru mengatur pelaksanaan aktivitas pembelajaran secara sistematis untuk membantu proses belajar peserta didik. Sebagaicontoh: guru menambah informasi baru setelah mengevaluasi pemahaman peserta didik terhadap materi sebelumnya, dan
  • Guru menggunakan alat bantu mengajar, dan/atau audio‐visual (termasuk tik) untuk meningkatkan motivasi belajar pesertadidik dalam mencapai tujuan pembelajaran.

5. Mengembangkan Potensi Peserta Didik
Guru dapat menganalisis potensi pembelajaran setiap peserta didik dan mengidentifikasi pengembangan potensi peserta didik melalui program pembelajaran yang mendukung siswa mengaktualisasikan potensi akademik, kepribadian, dan kreativitasnya sampai ada bukti jelas bahwa peserta didik mengaktualisasikan potensi mereka. Kemampuan mengembangkan postensi peserta didik ini akan nampak jika:
  • Guru menganalisis hasil belajar berdasarkan segala bentuk penilaian terhadap setiap peserta didik untuk mengetahui tingkat kemajuan masing‐masing.
  • Guru merancang dan melaksanakan aktivitas pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk belajar sesuai dengan kecakapan dan pola belajar masing‐masing.
  • Guru merancang dan melaksanakan aktivitas pembelajaran untuk memunculkan daya kreativitas dan kemampuan berfikir kritis peserta didik.
  • Guru secara aktif membantu peserta didik dalam proses pembelajaran dengan memberikan perhatian kepada setiap individu.
  • Guru dapat mengidentifikasi dengan benar tentang bakat, minat, potensi, dan kesulitan belajar masing-masing peserta didik.
  • Guru memberikan kesempatan belajar kepada peserta didik sesuai dengan cara belajarnya masing-masing.
  • Guru memusatkan perhatian pada interaksi dengan peserta didik dan mendorongnya untuk memahami dan menggunakan informasi yang disampaikan.

6. Melakukan Komunikasi dengan Peserta Didik
Yang dimaksud adalah guru mampu berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik dan bersikap antusias dan positif. Guru mampu memberikan respon yang lengkap dan relevan kepada komentar atau pertanyaan peserta didik. Berikut indikator adalah indikatornya:
  • Guru menggunakan pertanyaan untuk mengetahui pemahaman dan menjaga partisipasi peserta didik, termasuk memberikan pertanyaan terbuka yang menuntut peserta didik untuk menjawab dengan ide dan pengetahuan mereka.
  • Guru memberikan perhatian dan mendengarkan semua pertanyaan dan tanggapan peserta didik, tanpamenginterupsi, kecuali jika diperlukan untuk membantu atau mengklarifikasi pertanyaan/tanggapan tersebut.
  • Guru menanggapi pertanyaan peserta didik secara tepat, benar, dan mutakhir, sesuai tujuan pembelajaran dan isi kurikulum, tanpa mempermalukannya.
  • Guru menyajikan kegiatan pembelajaran yang dapat menumbuhkan kerja sama yang baik antarpeserta didik.
  • Guru mendengarkan dan memberikan perhatian terhadap semua jawaban peserta didik baik yang benar maupun yang dianggap salah untuk mengukur tingkat pemahaman peserta didik.
  • Guru memberikan perhatian terhadap pertanyaan peserta didik dan meresponnya secara lengkap danrelevan untuk menghilangkan kebingungan pada peserta didik.

7. Menilai dan Mengevaluasi Pembelajaran
Guru mampu menyelenggarakan penilaian proses dan hasil belajar secara berkesinambungan. Guru melakukan evaluasi atas efektivitas proses dan hasil belajar dan menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk merancang program remedial dan pengayaan. Guru mampu menggunakan hasil analisis penilaian dalam proses pembelajarannya. Kemampuan dalam aspek ini akan terlihat ketika:
  • Guru menyusun alat penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran untuk mencapai kompetensi tertentu seperti yang tertulis dalam RPP.
  • Guru melaksanakan penilaian dengan berbagai teknik dan jenis penilaian, selain penilaian formal yang dilaksanakan sekolah, dan mengumumkan hasil serta implikasinya kepada peserta didik, tentang tingkat pemahaman terhadap materi pembelajaran yang telah dan akan dipelajari.
  • Guru menganalisis hasil penilaian untuk mengidentifikasi topik/kompetensi dasar yang sulit sehingga diketahui kekuatan dan kelemahan masing‐masing peserta didik untuk keperluan remedial dan pengayaan.
  • Guru memanfaatkan masukan dari peserta didik dan merefleksikannya untuk meningkatkan pembelajaran selanjutnya, dan dapat membuktikannya melalui catatan, jurnal pembelajaran, rancangan pembelajaran, materi tambahan, dan sebagainya.
  • Guru memanfatkan hasil penilaian sebagai bahan penyusunan rancangan pembelajaran yang akan dilakukan selanjutnya.

Sumber: http://www.sekolahdasar.net/

Thursday, June 14, 2012

Pendidikan Penentu IPM


Pendidikan merupakan sektor utama dalam pembangunan sumber daya manusia, kinerja pendidikan juga merupakan indikator  kemajuan suatu negara. Sehingga urusan pendidikan merupakan urusan wajib di pemerintahan dan mendapatkan alokasi dana cukup besar.
Kinerja sektor pendidikan merupakan salah satu variable penentu tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM ) atau  Human Development Index ( HDI ).  IPM Indonesia tahun 2011 di urutan 124 dari 187 negara yang disurvei, dengan skor 0,617.  Peringkat ini turun dari peringkat 108 pada tahun 2010
Di kawasan ASEAN, Indonesia hanya unggul dari Vietnam yang memiliki nilai IPM 0,593, Laos dengan nilai IPM 0,524, Kamboja dengan nilai IPM 0,523, dan Myanmar dengan nilai IPM 0,483, katanya.
Di ASEAN, peringkat pertama dalam hal kualitas manusia adalah Singapura dengan nilai 0,866. Kemudian disusul Brunei dengan nilai IPM 0,838, disusul Malaysia (0,761), Thailand (0,682,) dan Filipina (0,644).
Menyikapi hal diatas, apa sebenarnya yang menjadi pemicu rendahnya IPM ? khususnya di sektor  pendidikan? Kemungkinan penyebabnya tentu bervariasi dan kompleks. Dipengaruhi oleh banyak hal internal dan eksternal.
Beberapa faktor rendahnya capaian kinerja pendidikan menurut penulis disebabkan  oleh :

1.      Tingkat keakuratan dan akumulasi data yang masih belum mantap
Dibanyak kasus, pendataan merupakaan hal yang sangat berat, sulit dikumpulkan, terlambat dan kurang valid. Sehingga melahirkan data final yang kurang akurat.
Manajemen database yang belum baik, terlebih dilini bawah (sekolah), kurang didukung oleh teknolgi dan Sumber Daya yang memadai

2.      Topografi wilayah Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, perbukitan, daerah sulit. Sehingga akses pendidikan masih terlalu rendah, siswa masih harus berjalan kaki sekian kilometer. Walau jarak sekolah dengan pemukiman siswa terjauh misalnya 3 Km, tetapi kita perlu sadarai 3 Km tersebut  mungkin saja  harus melalui sungai, bukit, tanpa alat transportasi.

3.      Penyebaran guru yang belum merata sesuai dengan analisis kebutuhan. Guru masih menumpuk di daerah perkotaan, sementara guru didaerah pingggiran sangat minim.

4.      Sarana dan Prasarana  penddikan yang belum memadai, alat praktik, perpustakaan terutama di jenjang pendidikan dasar. Keterbatasan akan akses informasi dan komunikasi dan bahkan ketersediaan jaringan listrik yang belum ada.

5.      Pada sekolah menengah, didaerah angka putus sekolah masih cukup tinggi. Hal ini lebih dominan dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, dan budaya suatu daerah (pernikahan dini ). Di Sekolah Menengah Kejuruan memerlukan biaya operasional maupun biaya personal yang cukup tinggi, sementara siswa yang di SMK menurut pengamatan penulis banyak pula mayarakat yang berpenghasilan rendah.
6.      Angka melek huruf atau tuna keaksaraan merupakan faktor sangat penting. Angka ini merupakan indikator kinerja kunci dibidang pendidikan. Untuk itu perlu fokus pada pendidikan non formal ini. Pendidikan non formal perlu kerja keras, diperlukan pendataan yang maksimal karena siswanya tidak samaa dengan sekolah formal yaang datang dan mendaftar disekolah. Mereka harus kita cari dan kumpulkan dalam bentuk – kelompok belajar. Diperlukan sosialisasi dan pendekatan, karena sebagian mereka adalah orang tua yang merasa malu dan tidak memerlukan lagi pandai tulis baca.

7.      Terakhir adalah faktor birokrasi dan kebijakan, para pengambil keputusan dan pengayom pendidikan didaerah. SOTK didaerah yang bongkar pasang, adakalanya yang menangani pendidikan belum diposisikaan orang yang tepat.